Bahan Kimia dalam Produk Pembersih Berisiko Rusak Paru

Yang perlu anda ketahui saat ini adalah bahan kimia dalam produk pembersih berisiko rusak paru, ini perhatian yang berlaku untuk semua orang yang memiliki produk pembersih.

Bahan Kimia dalam Produk Pembersih Berisiko Rusak ParuBerkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi telah menghasilkan produk-produk industri yang dapat memenuhi kebutuhan manusia sehari-hari. Bahan kimia yang telah diketahui manfaatnya dikembangkan dengan cara membuat produk-produk yang berguna untuk kepentingan manusia dan lingkungannya. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui jenis, sifat-sifat, kegunaan, dan efek samping dari setiap produk yang kita gunakan atau kita lihat sehari-hari.

Banyak ragam bahan kimia yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa kelompok bahan kimia yang dimaksud, di antaranya adalah:

1. pembersih;
2. pemutih pakaian;
3. pewangi;
4. pestisida;

Membersihkan dapur memang wajib dilakukan untuk menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga.Tapi di sisi lain, menggunakan produk pembersih untuk membersihkan dapur dan kamar mandi dapat berisiko pada paru-paru Anda.

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh sejumlah ilmuwan di University of Bergen menemukan bahwa orang-orang yang membersihkan rumahnya secara rutin berisiko 14 persen lebih besar mengalami penurunan fungsi paru-parunya selama 20 tahun ke depan. Hal ini disebabkan, produk pembersih mengandung bahan kimia berbahaya. Kandungan ini pun ditemukan di banyak produk pembersih, mulai dari cairan pencuci hingga pembersih lantai.

“Kita harus lebih waspada terhadap bahan kimia yang terlepas ke udara yang kita hirup saat menggunakan semprotan pembersih misalnya,” kata Oisten Svanes, seorang mahasiswa PhD yang menjadi ketua penelitian seperti dikutip laman The Sun. Penelitian ini mempelajari sampel dari 5.000 lebih orang yang dikumpulkan oleh The European Community Respiratory Health Survey selama periode dua dekade.

Dari data tersebut terungkap bahwa mereka yang memiliki pekerjaan sebagai pembersih mengalami 17 persen peluang lebih besar mengalami penurunan fungsi paru-paru dibandingkan rata-rata orang lainnya di luar. Membersihkan rumah menggunakan produk pembersih akan membuat seseorang terpapar bahan kimia seperti amonia yang dapat mengiritasi saluran napas dan senyawa-senyawa lainnya yang dapat menyebabkan alergi saluran napas.

Di masa lalu, sejumlah penelitian telah menggarisbawahi peningkatan risiko terjadinya penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) pada para pekerja pembersih profesional. Hal ini menjadikan profesi pembersih sebagai salah satu pekerjaan yang memiliki risiko tinggi mengalami penyakit ini.

Namun, penelitian terbaru, yang dipresentasikan di Kongres Internasional Kelompok Respiratori Eropa, menjadi penelitian pertama yang melihat bahaya jangka panjang paparan bahan kimia produk pembersih.

Penurunan fungsi paru-paru dapat meningkatkan risiko terkena penyakit pernapasan.

“Produk pembersih dapat membahayakan kesehatan seseorang. Jadi, Anda harus waspada akan risikonya dan mengambil langkah untuk mengurangi dampaknya. Pastikan untuk mendiskusikan gejala apapun dan kemungkinan adanya kaitan dengan tempat bekerja pada dokter,” kata Profesor Jorgen Vestbo, Presiden ERS dan profesor pengobatan respiratori di University of Manchester.

Pengaruh Bahan Kimia pada Produk Pembersih

Pernahkah kamu mencuci piring tanpa menggunakan produk pembersih, misal sabun colek? Jika kamu mencuci piring tanpa menggunakan sabun, piringnya akan terasa lengket dan kurang mengkilap.

Mengapa hal ini dapat terjadi? Produk pembersih umumnya mengandung sabun atau detergen. Tahukah kamu apakah sabun dan detergen itu?

Sabun adalah bahan kimia yang terbuat dari bahan alam, seperti minyak dan lemak yang direaksikan dengan bahan kimia lain yang disebut basa. Contoh bahan kimia basa, yaitu kalium hidroksida (KOH) dan natrium hidroksida (NaOH). Adapun detergen adalah senyawa kimia bernama alkyl benzene sulfonat (ABS) yang direaksikan dengan natrium hidroksida (NaOH).

Bahan ABS diperoleh dari pengolahan minyak bumi. Perbedaan detergen dengan sabun antara lain daya cuci detergen lebih kuat dibandingkan sabun dan detergen dapat bekerja pada air sadah. Akan tetapi sabun lebih mudah diurai oleh mikroorganisme.

Nah, bagaimanakah pengaruh bahan kimia yang ada dalam produk pembersih sehingga bahan kimia tersebut dapat membersihkan kotoran? Molekul sabun terdiri atas dua bagian yaitu bagian yang bersifat hidrofilik dan yang bersifat hidrofobik.

Bagian hidrofilik adalah bagian yang menyukai air atau bersifat polar. Adapun bagian hidrofobik adalah bagian yang tidak suka air atau bersifat nonpolar. Kotoran yang bersifat polar biasanya larut dalam air, sehingga kotoran jenis ini tidak perlu dibersihkan dengan menggunakan sabun. Kotoran yang bersifat nonpolar, seperti minyak atau lemak tidak akan hilang jika hanya dibersihkan menggunakan air.

Oleh karena itu, diperlukan detergen sebagai pembersihnya. Ujung hidrofob detergen yang bersifat nonpolar mudah larut dalam minyak atau lemak dari bahan cucian. Ketika kamu menggosok atau memeras pakaian membuat minyak atau lemak menjadi butiran-butiran lepas yang dikelilingi oleh lapisan molekul detergen. Gugus polarnya berada di luar lapisan sehingga butiran itu larut di air.

Terus kunjungi situs http://obatherbalpenghancurbatuginjal.com/ untuk mengetahui informasi kesehatan lainnya , karena kami akan terus update setiap harinya.

Baca juga artikel menarik lainnya : Ketahui Gejala Darah Kotor Dalam Tubuh

Bahan Kimia dalam Produk Pembersih Berisiko Rusak Paru